Minggu, 19 Desember 2010

SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA TAHAP 5

SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA TAHAP 5

I.    Pengertian
                  Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap ke lima dari siklus kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6-7 tahun, meskipun tahap ini bisa lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih tinggal di rumah hingga umur 11-20 tahun. Anak-anak lain dalam rumah biasanya masih dalam usia sekolah. Tujuan kelurga yang terlalu enteng pada tahap ini yang melonggarkan ikatan kelurga memungkinkan tanggung jawab dan kebebebasan yang lebih besar bagi remja dalam persiapan menjadi dewasa muda (duvall 1977).
                  Preto (1988), dalam membahas tentang transformasi system keluarga dalam masa remaja menguraikan metamorphosis keluarga yang terjadi. Metamorfisis ini meliputi “pergeseran yang luar biasa pada pola-pola hubungan antar generasi, dan sementara pergeseran ini pada awalnya ditandai dengan kematangan fisik remaja, pergeseran ini seringkali sejalan dan bertepatan dengan perubahan pada orang tua karena meraka memasuki pertengahan hidup dan dengan transformasi utama yang dihadapi oleh kakek-nenek dalam usia tua” (hal.255).
                  Tahap kehidupan keluarga ini mungkin yang paling sulit, atau tentu yang paling banyak diperbincangkan dan ditulis (Kidwell etal, 1983). Keluarga amerika dipengaruhi oleh tugas-tugas perkembangan remaja dan orang tua dan menciptakan konflik dan kekacauan yang luar biasa yang tidak bias dihindarkan. Tugas perkembangan remaja menghendaki pergerakan dari ketergantungan dan kendali orang tua dan orang dewasa lainnya, melalui periode aktivitas dan pengaruh kelompok teman sebaya yang kokoh hingga saat menerima peran-peran orang dewasa (Adams, 1971).
                  Tantangan utama dalam bekerja dengan keluarga dengan anak remaja bergerak sekitar perubahan perkembangan yang dialami oleh remaja dalam batasan perubahan kognitif, pembentukan identitas, dan pertumbuhan biologis (Kidwell etal, 1983), serta konflik-konflik dan krisis yang berdasarkan perkembangan. Adams (1971) menguraikan tiga aspek proses perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian, yakni emansipasi (otonomi yang meningkat), budaya orang muda (perkembangan hubungan teman sebaya), kesenjangan antar generasi (perbedaan nilai-nilai dan norma-norma antara orang tua dan remaja).
                  Peran, Tanggung Jawab, dan Masalah Orangtua. Tidak perlu dikatakan bahwa orang tua mengasuh remaja merupakan tugas paling sulit saat ini. Namun demikian, orang tua perlu tetap tegar menghadapi ujian batas-batas yang tidak masuk akal tersebut, yang telah terbentuk dalam keluarga ketika keluarga mengalami proses “melepaskan”. Duval (1977) juga mengidentifikasi tugas-tugas perkembangan yang penting pada masa ini yang menyelaraskan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi matang dan mengatur diri mereka sendiri. Friedman (1957) juga mendefinisikan serupa bahwa tugas orang tua selama tahap ini adalah menerima penolakan tanpa meninggalkan anak.
                  Ketika orangtua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan dan kelebihan meraka, dan ketika meraka menerima sejumlah peran meraka pada tahap perkembangan ini tanpa konflik atau sensitifitas yang tidak pantas, mereka membentuk pola untuk semacam penerimaan diri yang sama. Hubungan antara orangtua dan remaja seharusnya lebih mulus bila orang tua merasa produktif, puas, dan dapat mengendalikan kehidupan mereka sendiri (kidwell etal, 1983) dan orangtua / keluarga berfungsi secara fleksibel (Preto, 1988).
                  Schultz (1972) dan lain-lain telah mengungkapkan pandangan meraka bahwa kompleksitas kehidupan Amerika yang meningkat telah membuat peran orangtua tidak jelas. Orangtua merasa berkompetisi dengan berbagai kekuatan social dan institusi – mulai dari otoritas sekolah dan konselorhingga keluarga berencana dan seks pranikah dan pilihan kumpul kebo. Factor-faktor lain menambah pengaruh mereka yang semakin berkurang tersebut. Karena adanya spesialisasi jabatan dan profesi, orangtua tidak bias lagi membantu anak-anak meraka dengan rencana-rencana untuk bekerja. Mobilitas penduduk dan kurangnya hubungan orang dewasa yang kontinu bagi remaja dan orangtua, selain ketidakmampuan banyak orangtua untuk mendiskusikan masalah-masalah pribadi, seks, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan obat-obatan secara terbuka dan tidak menghakimi bersama anak-anak mereka juga memberikan kontribusi pada massalah-masalah orangtua-remaja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar